Guru diplesetkan oleh Orang Jawa menjadi diGugu lan ditiRu. Semua perbuatan Guru harus dapat dipercaya dan dapat dicontoh, baik oleh masyarakat terlebih anak didik, dan yang terutama anak kandung sendiri #ehhh.
Namun, sebagai manusia, hidup kadang tidak mulus. Penuh dengan kerikil-kerikil. Mulai dari urusan pribadi, kecelakaan dari kecil sampai skala besar. Urusan begini ini membuat perasaan tidak nyaman. Dalam skala kecil, perasaan kesal, marah, lelah, dan sejenisnya. Dalam skala besar ya menyebabkan kerusakan, baik yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat.
Di tengah ' kerusakan ' ini, kadang seorang 'guru' (pendidik, termasuk orangtua, guru, dosen, dan tenaga kependidikan) harus tetap menjalankan fungsinya. Baikkah? Tentu saya tidak punya jawaban pasti. Jika menggunakan kapasitas saya sebagai Guru Matematika, saya berani bilang itu tidak baik. Namun, kodrat kemanusiaan saya dan pengalaman hidup membuktikan itu tidak selalu buruk, bahkan baik, kadang baik sekali.
Bagaimana itu menjadi baik? Yang dapat saya jawab hanya 'itu adalah waktu dan perkenanan Tuhan'. Bagaimana menghadapi siswa ketika semua menjadi buruk? Berharap pada Tuhan.
Ketika segalanya menjadi buruk, Tuhan yang dapat menjadikannya baik. Maka, berharaplah padaNya. Bagi anda yang tidak percaya, silahkan... tapi, bagi yang percaya dan melakukanNya, berkat besar siap menanti.
Hello!
Showing posts with label Sharing. Show all posts
Showing posts with label Sharing. Show all posts
Monday, May 1, 2017
Sunday, April 30, 2017
Anak adalah Berkah
Beberapa waktu lalu, saya ikut dalam sebuah kesempatan pembinaan anak untuk suatu penitipan anak. Penitipan anak itu ditujukan untuktujuan sosial, sehingga pembinanya idak dibayar dan hanya bekerja beberapa jam saja.
Waktu itu saya benar-benar tertarik dengan penjelasan pemateri. Eksppresi wajah saya sering berubah-ubah dari senyum geli, senyum kecut, tampang mellow dan sebagainya. dan dari momen itu yang paling saya ingat adalah ketika pemateri menyebut anak sebagai little monsters ! Saya nggak mau jadi orang munafik, jadi saya geli saja mendengarnya. Kalo anak nggak mood, ya itulah...berubah jadi little monsters. Tapi, nggak bisa juga saya ingkari kalo mereka sebenarnya bukan monster, mereka itu cuma ... mmm... kurang pengalaman, gitu aja!
Mereka itu harapan bangsa, negara, dan Gereja (kalo readers Kristen sih gitu! KAlo bukan yah...mohon disesuaikan sendiri, ya...Trims!). Benar mereka bikin lelah, konsentrasinya kalo bertahan 8 menit Puji Tuhan, tapi di tangan mereka masa depan kita.
Ibarat kita ini yang berusia 29 ke atas itu matahari, maka kita sudah agak condong ke arah barat, beberapa waku lamanya kita akan tenggelam. Anak-anak ini yang akan terbit, mereka masih di timur, masih dingin. Ada sisa sisa kegelapan dalam hati dan pikiran mereka. Jadi, sudah tugas kita memberi mereka cahaya dan kehangatan. Bila "matahari" dalam diri mereka gelap alangkah gelapnya hari tua kita.
Bukan mudah mengobarkan sinar mereka, karena kegelapan sudah siap menelan mereka. Lihat saja sekarang. Kata orang Jawa zaman dulu, kita ini hidup di dua jagad, Jagad gedhe (yang tidak dapat kita lihat, alam roh) dan jagad cilik (alam kelihatan). Nah, sejak era 90an, jagad ini bertambah jadi satu lagi jagad maya (medsos, internet). Hidup di dua dunia saja susah, sekarang tiga! Hwooo....
Mari-mari kawan, sebagai anak, patuhi orangtua dan sopan pada mereka...
Bagi orangtua, guru, pendidik, harap sabar ini ujian.
Waktu itu saya benar-benar tertarik dengan penjelasan pemateri. Eksppresi wajah saya sering berubah-ubah dari senyum geli, senyum kecut, tampang mellow dan sebagainya. dan dari momen itu yang paling saya ingat adalah ketika pemateri menyebut anak sebagai little monsters ! Saya nggak mau jadi orang munafik, jadi saya geli saja mendengarnya. Kalo anak nggak mood, ya itulah...berubah jadi little monsters. Tapi, nggak bisa juga saya ingkari kalo mereka sebenarnya bukan monster, mereka itu cuma ... mmm... kurang pengalaman, gitu aja!
Mereka itu harapan bangsa, negara, dan Gereja (kalo readers Kristen sih gitu! KAlo bukan yah...mohon disesuaikan sendiri, ya...Trims!). Benar mereka bikin lelah, konsentrasinya kalo bertahan 8 menit Puji Tuhan, tapi di tangan mereka masa depan kita.
Ibarat kita ini yang berusia 29 ke atas itu matahari, maka kita sudah agak condong ke arah barat, beberapa waku lamanya kita akan tenggelam. Anak-anak ini yang akan terbit, mereka masih di timur, masih dingin. Ada sisa sisa kegelapan dalam hati dan pikiran mereka. Jadi, sudah tugas kita memberi mereka cahaya dan kehangatan. Bila "matahari" dalam diri mereka gelap alangkah gelapnya hari tua kita.
Bukan mudah mengobarkan sinar mereka, karena kegelapan sudah siap menelan mereka. Lihat saja sekarang. Kata orang Jawa zaman dulu, kita ini hidup di dua jagad, Jagad gedhe (yang tidak dapat kita lihat, alam roh) dan jagad cilik (alam kelihatan). Nah, sejak era 90an, jagad ini bertambah jadi satu lagi jagad maya (medsos, internet). Hidup di dua dunia saja susah, sekarang tiga! Hwooo....
Mari-mari kawan, sebagai anak, patuhi orangtua dan sopan pada mereka...
Bagi orangtua, guru, pendidik, harap sabar ini ujian.
Subscribe to:
Comments (Atom)
-
Berikut ini soal latihan Segiempat, silahkan download di sini Soal Luas dan keliling segitiga di sini Soal melukis dan sifat segitiga (Por...
-
Guru diplesetkan oleh Orang Jawa menjadi diGugu lan ditiRu. Semua perbuatan Guru harus dapat dipercaya dan dapat dicontoh, baik oleh masyara...